Bedah Makna di Balik Logo Mens Rea: Kreativitas di balik Kontroversi Tour Stand-up Comedy Panji Pragiwaksono
Special show stand-up comedy ke-10 Panji Pragiwaksono, Mens Rea, tengah menjadi fenomena yang ramai diperbincangkan di media sosial. Show ini menarik perhatian karena materi-materinya yang "tepi jurang"—sebuah istilah untuk komedi yang berani menyentuh isu-isu sensitif, provokatif. Keberanian Panji dalam mengeksplorasi materi sensitif di atas panggung menciptakan rasa penasaran publik, yang kemudian diperkuat oleh identitas visual yang tidak kalah misterius.
Fokus utama dari branding show ini terletak pada logonya yang unik. Logo Mens Rea menyimpan makna tersembunyi yang sangat dalam. Identitas visual ini lahir dari tangan dingin desainer Einsteina Randy (dengan akun Instagram @rndyxxiv). Dalam dunia Desain Komunikasi Visual (DKV), sebuah logo berfungsi sebagai representasi pesan yang ingin disampaikan oleh subjeknya. Dalam hal ini, Randy berhasil menerjemahkan kegelisahan dan "niat" Panji ke dalam bentuk visual yang sangat simbolis.
Berdasarkan penjelasan Randy, istilah Mens Rea diambil dari bahasa Latin yang berarti "Niat Jahat". Untuk memperkuat kesan hukum dan sejarah di balik istilah tersebut, Randy menggunakan tipografi script yang terinspirasi dari literatur hukum zaman dahulu. Secara teori DKV, pemilihan typeface ini memberikan kesan otoritas, klasik, sekaligus formalitas yang kaku. Namun, kekakuan tersebut justru "dirusak" secara artistik untuk memberikan kesan pemberontakan, mencerminkan bagaimana Panji mengolah isu hukum dan sosial melalui sudut pandang komedi yang nakal.

Logo Mens Rea pada Postingan akun Instagram @rndyxxiv
Salah satu elemen paling menarik adalah modifikasi pada huruf "E" dalam kata "Mens" dan "Rea". Jika diperhatikan, huruf E tersebut memiliki keunikan karena memiliki empat garis horizontal, berbeda dengan huruf E standar yang hanya memiliki tiga garis. Keunikan ini bukan tanpa alasan, Randy menjelaskan bahwa aksen tersebut membentuk angka 10 yang terinspirasi dari coretan-coretan di dinding penjara (tally marks). Dalam semiotika desain, penggunaan simbol coretan penjara ini mengomunikasikan ide tentang konsekuensi, hukuman, dan kegelapan, yang sangat selaras dengan arti "Niat Jahat".
Pengaitan angka 10 dan coretan penjara ini memberikan kedalaman narasi pada logo tersebut. Angka 10 yang disamarkan dalam dua huruf E menciptakan sebuah "noise" visual yang memaksa audiens untuk melihat lebih lama dan berpikir (proses encoding dan decoding dalam komunikasi visual). Empat garis tersebut bukan kesalahan desain, melainkan sebuah simbolisme kuat tentang berapa lama seseorang telah "terkurung" bersama pikiran-pikiran atau niat jahatnya. Ini menciptakan keterkaitan psikologis antara penonton dengan tema besar pertunjukan Panji: bahwa setiap manusia memiliki sisi gelap yang dapat menimbulkan konsekuensi hukum.
Secara keseluruhan, logo Mens Rea menjadi contoh bagaimana teori desain komunikasi visual digunakan untuk membangun persepsi publik pada sebuah branding acara bahkan sebelum acara itu dimulai. Melalui kolaborasi dengan Einsteina Randy, Panji mencoba menjual tawa dengan pemikiran mendalam hingga pada aspek visual branding. Kontroversi yang muncul di masyarakat menjadi bukti keberhasilan desain tersebut dalam memicu diskusi. Karena pada akhirnya, desain yang baik bukan hanya yang memanjakan mata, tetapi desain yang mampu menyampaikan pesan yang kuat, meskipun pesan itu bersifat "tepi jurang".
Penulis : Tim Website DKV UNESA
Sebagian dari draf awal artikel ini ditulis menggunakan Gemini kemudian disunting serta dikembangkan lebih lanjut oleh penulis



