Fakultas Bahasa dan Seni ajak Mahasiswa Eksplorasi Potensi AI, Dari Evaluasi Pembelajaran hingga Tantangan Kreatif
SURABAYA – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk Visiting Top Professor: Academic Mastery Program (from AI-Enhanced Learning to High Impact Research Writing) pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung T14 Lantai 4 FBS Unesa mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB dan diikuti oleh sekitar 150 mahasiswa program sarjana (S1) dari sembilan program studi bidang bahasa, khususnya kelas internasional angkatan 2024.
AI Bukan Sekadar Alat, Tapi Kendali Kreatif
Dalam pemaparan materi, ditekankan bahwa mahasiswa diharapkan mampu "mengendalikan" AI. Hal ini menjadi poin krusial yang juga bersinggungan erat dengan dunia Desain Komunikasi Visual (DKV). Sebagaimana dalam desain, AI kini mampu menghasilkan visual dan teks secara instan, namun peran manusia sebagai konseptor dan pengendali kualitas tetap tidak tergantikan.
Bagi mahasiswa DKV, integrasi AI dalam pembelajaran—seperti yang dibahas dalam kuliah tamu ini—memberikan perspektif baru bahwa AI dapat mempercepat proses kerja (seperti moodboarding atau layouting), tetapi keputusan estetis dan logika komunikasi visual tetap berada di tangan desainer.
Review Kurikulum: Menjawab Tantangan Zaman
Selain kuliah tamu, kegiatan dilanjutkan dengan review kurikulum untuk Program Studi Sastra dan Pendidikan Bahasa Inggris. Fokus utamanya adalah pemutakhiran muatan mata kuliah dan rekomendasi mata kuliah baru yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Relevansinya dengan DKV terletak pada adaptasi kurikulum yang serupa. Di era digital, lulusan bahasa maupun desain dituntut untuk memiliki keterampilan interdisipliner. Review kurikulum ini membuka peluang adanya kolaborasi mata kuliah yang menggabungkan kekuatan narasi (Sastra) dengan kekuatan visual (DKV), terutama dalam pembuatan konten digital berbasis AI yang komunikatif dan beretika.
Sinergi Teknologi dan Humanisme
Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar para mahasiswa, baik di bidang bahasa maupun praktisi visual nantinya, memiliki literasi digital yang tinggi.
"Diharapkan mahasiswa akrab dan mampu mengendalikan AI, jadi tidak langsung percaya begitu saja," ujar narasumber dalam rekaman tersebut.
Sikap kritis ini sangat penting dalam DKV untuk menghindari plagiarisme digital dan menjaga orisinalitas karya di tengah banjirnya konten hasil kecerdasan buatan.
Penulisa : Tim Website DKV



