Review Film Para Perasuk : Menemukan Realitas dalam Balutan Mistis
REVIEW FILM Para Perasuk (2026)
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Review oleh: Shofani Azhari
Ada sesuatu yang ganjil sejak awal Para Perasuk dimulai—bukan karena elemen mistisnya, tetapi karena suasana yang terasa terlalu dekat dengan realitas. Film ini tidak membangun ketakutan lewat kejutan, melainkan lewat perasaan akrab yang perlahan berubah menjadi asing.
Alih-alih menjadikan kerasukan sebagai pusat sensasi, film ini menggeser maknanya menjadi sesuatu yang lebih subtil. Kerasukan di sini terasa seperti “bahasa lain” dari hal-hal yang tidak sempat diucapkan. Emosi yang ditekan terlalu lama, relasi yang berjalan tanpa benar-benar dipahami, hingga ruang keluarga yang tampak utuh dari luar namun menyimpan jarak di dalamnya.
Narasinya tidak lurus, dan itu justru kekuatannya. Penonton tidak disuapi jawaban, melainkan diajak meraba—menghubungkan fragmen demi fragmen yang terasa seperti potongan ingatan. Ada momen ketika adegan berjalan sangat sunyi, tetapi justru di situlah film ini berbicara paling keras.
Di beberapa titik, film ini seperti melempar pertanyaan tanpa benar-benar mengucapkannya:
— seberapa sering kita benar-benar hadir, bukan sekadar ada?
— kapan terakhir kali kita mendengar tanpa ingin langsung menjawab?
Kekuatan lain film ini juga terletak pada performa para aktornya. Anggun menghadirkan sesuatu yang sulit digantikan—suara khasnya bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi denyut emosional yang memberi nyawa pada film. Ada kesan bahwa tanpa warna vokalnya, atmosfer yang dibangun tidak akan seutuh ini.
Sementara itu, Angga Yunanda tampil dengan intensitas yang mengejutkan. Ia tidak hanya memerankan karakter, tetapi seolah melebur dengan entitas yang dihadirkannya. Gerak tubuh, ekspresi, hingga energi yang dibawa terasa konsisten, menciptakan pengalaman yang imersif bagi penonton.
Di sisi lain, Maudy Ayunda memberikan performa yang tenang namun kuat sebagai sosok pelamun. Ia bermain di wilayah yang subtil—tidak banyak ledakan emosi, tetapi justru menghadirkan kedalaman yang perlahan terasa. Karakternya seperti berjalan di antara batas sadar dan bawah sadar, memberi nuansa puitis dalam keseluruhan cerita.
Selain itu, lapisan audio dalam film ini menjadi salah satu elemen yang paling terasa imersif. Penggunaan instrumen seperti slompret, gitar, dan kendang tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi menjadi bagian dari narasi itu sendiri. Bunyi slompret menghadirkan nuansa ritual yang kuat, petikan gitar memberi ruang reflektif yang intim, sementara kendang menjadi denyut yang mengarahkan ritme emosi. Kombinasi ini membuat pengalaman menonton terasa lebih dalam—seolah suara-suara tersebut ikut mengisi ruang batin penonton.
Secara visual, pendekatan Wregas terasa semakin matang. Frame-frame yang statis memberi ruang kontemplatif, sementara komposisi ruang antar karakter menjadi bahasa tersendiri untuk menggambarkan jarak emosional. Tidak banyak distraksi visual, tetapi justru kesederhanaan itu membuat setiap detail terasa lebih bermakna.

Yang membuat Para Perasuk terasa menonjol adalah keberaniannya menawarkan pengalaman mistis yang berbeda. Film ini tidak bergantung pada formula horor konvensional, melainkan menghadirkan pendekatan yang lebih reflektif dan emosional. Sebuah film mistis yang terasa fresh—bukan karena mencoba menjadi aneh, tetapi karena jujur dalam cara bercerita.
Lebih dari itu, film ini juga terasa seperti pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang didera trauma. Ia tidak menawarkan penyembuhan yang instan, tetapi memberi ruang—ruang untuk merasa, untuk mengingat, dan mungkin perlahan memahami.
Akhirnya, Para Perasuk meninggalkan kesan yang tidak langsung hilang. Bukan rasa takut yang dominan, melainkan semacam gema batin—perasaan bahwa ada hal-hal yang seharusnya lebih sering kita dengarkan, lebih sering kita pahami. Sebuah karya yang tidak hanya mengajak melihat ke luar, tetapi juga menoleh ke dalam.



