Kompetisi: Cara Mahasiswa DKV Membangun Citra Diri
Surabaya - Bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV), dunia perkuliahan ibarat ruang latihan, sedangkan kompetisi adalah arena tanding yang sesungguhnya. Di kelas, mahasiswa belajar teori, praktik, dan berkreasi dengan ruang yang relatif aman. Namun, begitu terjun ke kompetisi, situasi berbeda: brief dirancang ketat, tenggat waktu singkat, lawan datang dari berbagai kampus, dan juri hadir dengan ekspektasi tinggi. Pada titik inilah karya benar-benar diuji dalam konteks nyata. Kompetisi bukan hanya ajang pembuktian siapa yang terbaik, tetapi juga sarana berharga untuk mengasah keterampilan, memperkuat komunikasi, memperluas jejaring profesional, dan membangun citra diri yang kredibel. Dengan kata lain, kemenangan dalam kompetisi bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pertumbuhan seorang desainer.
Salah satu manfaat utama dari berkompetisi adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan kreatif sekaligus membangun mentalitas tangguh. Kompetisi menuntut mahasiswa untuk cepat berpikir, beradaptasi, dan menghasilkan solusi desain yang relevan. Dalam literatur manajemen kreatif, hal ini disebut sebagai ambidexterity kreatif, yaitu kemampuan menyeimbangkan antara eksplorasi ide baru dan eksekusi yang presisi (Wu et al., 2022). Dengan mengikuti lomba, mahasiswa dipaksa keluar dari zona nyaman: tidak cukup sekadar menghasilkan karya indah, tetapi juga karya yang kontekstual, komunikatif, dan sesuai kebutuhan brief. Tekanan ini justru melatih disiplin, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan desain.
Dari perspektif psikologi, atmosfer kompetitif seringkali dianggap menekan, tetapi penelitian menunjukkan hasil yang sebaliknya. Studi oleh Ma et al. (2024) menegaskan bahwa suasana kompetitif dapat memperkuat hubungan antara sikap kompetitif, self-efficacy (keyakinan diri), dan motivasi tugas. Dengan kata lain, ketika mahasiswa percaya pada kemampuannya, kompetisi justru menjadi bahan bakar untuk berprestasi lebih baik. Hal ini selaras dengan temuan Purwati et al. (2025) yang menunjukkan bahwa perbandingan sosial dan kepercayaan diri berperan besar dalam membentuk perilaku kompetitif mahasiswa. Artinya, kompetisi bisa menjadi ruang sehat untuk menguji batas kemampuan diri, asal difasilitasi dengan sistem yang adil.
Meski demikian, perlu diingat bahwa tidak semua kompetisi berdampak positif. Kajian oleh DiFrancesca et al. (2025) menyoroti bahwa kompetisi yang terlalu menekankan hasil menang–kalah dapat meningkatkan kecemasan dan menggeser motivasi dari belajar menjadi sekadar menghindari kegagalan. Oleh sebab itu, penting bagi mahasiswa untuk selektif memilih kompetisi yang dirancang dengan baik: memiliki rubrik penilaian yang transparan, memberi umpan balik, dan menekankan proses belajar. Dengan begitu, kompetisi bukan sekadar lomba, tetapi ruang tumbuh bersama.
Selain melatih keterampilan teknis, kompetisi juga menjadi ruang latihan komunikasi desain. Karya yang hebat tidak akan bermakna jika tidak dapat dikomunikasikan dengan baik kepada audiens. Banyak lomba desain menuntut peserta menjelaskan ide dalam bentuk presentasi singkat, elevator pitch, atau bahkan live demo. Format seperti Four-Minute Thesis (4MT) terbukti efektif dalam membantu mahasiswa melatih kemampuan menjelaskan gagasan kompleks secara singkat, jelas, dan meyakinkan (IEEE Globecom, 2023). Ini sangat relevan bagi mahasiswa DKV, mengingat desainer tidak hanya bekerja untuk diri sendiri, melainkan harus bisa meyakinkan klien, pengguna, dan pemangku kepentingan lain.
Di era digital, komunikasi juga mencakup kemampuan membangun narasi karya di media sosial. Gómez et al. (2024) menunjukkan bahwa media sosial mendukung kolaborasi dan komunikasi dalam tim riset. Bagi mahasiswa DKV, media sosial seperti Behance, Instagram, dan LinkedIn dapat menjadi etalase untuk memamerkan hasil lomba sekaligus memperlihatkan proses kreatif di balik layar. Dengan begitu, kompetisi tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga konten portofolio yang meningkatkan visibilitas profesional.
Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah perluasan jejaring profesional. Kompetisi mempertemukan mahasiswa dengan juri dari kalangan industri, mentor berpengalaman, hingga peserta dari berbagai kampus. Pertemuan ini kerap menjadi awal dari kolaborasi lintas institusi, kesempatan magang, hingga peluang kerja nyata. Penelitian Jackson (2024) dalam konteks pendidikan tinggi menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kompetitif berhubungan erat dengan kesiapan kerja dan kepercayaan diri menghadapi dunia profesional. Bahkan, di level internasional, beberapa kompetisi dirancang menyerupai tantangan industri. PCMA Global Student Competition (2025), misalnya, meminta peserta menyelesaikan studi kasus aktual dan mempresentasikannya di depan panel profesional. Hal ini membuktikan bahwa kompetisi adalah jembatan langsung antara kampus dan dunia kerja.
Selain keterampilan dan jejaring, kompetisi juga berdampak pada citra profesional. Dalam industri kreatif, penghargaan berfungsi sebagai signaling atau sinyal kualitas. Studi oleh Meléndez-Rodríguez et al. (2025) menunjukkan bahwa penghargaan mampu meningkatkan reputasi kreator iklan dan memperkuat posisi mereka dalam industri. Namun, mereka juga menekankan pentingnya keseimbangan agar obsesi pada penghargaan tidak mengorbankan kesehatan maupun kualitas hidup. Di sisi lain, personal branding kini semakin krusial. Szántó et al. (2025) mengembangkan kerangka Personal Brand Equity yang menekankan pentingnya konsistensi identitas profesional. Dalam hal ini, prestasi kompetisi dapat menjadi salah satu pilar pembentuk citra diri yang kredibel, didukung dokumentasi portofolio digital yang rapi.
E-portfolio sendiri terbukti efektif dalam mendukung kesiapan karier. Studi dari Data Science and Technologies Journal (2024) menegaskan bahwa portofolio digital membantu mahasiswa meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memberikan bukti konkret keahlian mereka. Kompetisi memberi “bahan baku” penting untuk portofolio: mulai dari sketsa, proses iterasi, hingga hasil akhir yang bisa dipresentasikan dalam bentuk studi kasus. Dengan begitu, mahasiswa memiliki modal yang lebih kuat untuk melamar pekerjaan atau mengembangkan karier profesional.
Agar kompetisi benar-benar menjadi sarana belajar yang efektif, mahasiswa perlu menyusun strategi. Pertama, pilih kompetisi yang relevan dengan minat dan keterampilan, sehingga setiap lomba menjadi bagian dari pengembangan diri yang terarah. Kedua, bentuk tim dengan komposisi seimbang: ada anggota yang kuat dalam riset, ideasi, dan produksi. To dan Tam (2025) menekankan bahwa tim yang terencana dengan baik meningkatkan peluang menghasilkan solusi inovatif. Ketiga, dokumentasikan setiap proses, bukan hanya hasil. Dokumentasi ini akan menjadi case study yang memperlihatkan cara berpikir dan proses desain, yang sangat dihargai dalam industri. Keempat, manfaatkan kompetisi untuk membangun jejaring dengan juri maupun peserta lain. Jangan ragu menghubungi mereka setelah lomba untuk berdiskusi lebih lanjut atau memperluas koneksi profesional. Terakhir, jaga keseimbangan diri. Fokuslah pada pembelajaran dan peningkatan keterampilan, bukan sekadar mengejar piala. Dengan mindset seperti ini, kompetisi akan menjadi pengalaman menyenangkan dan produktif.
Pada akhirnya, kompetisi bukanlah garis akhir, melainkan akselerator pembelajaran. Ia melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, berkomunikasi efektif, membangun jejaring, dan membentuk citra profesional yang kredibel. Dengan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga, tetapi juga menyiapkan diri untuk menghadapi dinamika industri kreatif yang semakin kompetitif. Bagi mahasiswa DKV UNESA, kompetisi seharusnya dipandang sebagai ruang belajar, bukan beban. Karena di balik setiap lomba, ada kesempatan untuk tumbuh, berjejaring, dan membangun reputasi yang akan menjadi modal penting sepanjang karier.
Daftar Pustaka
- Developing digital portfolios to enhance employability and career success. (2024). Data Science and Technologies Journal. Retrieved from https://jurnal.itscience.org
- DiFrancesca, D., et al. (2025). The effects of competitive classroom activities on learning and motivation: A review. Instructional Science. https://doi.org/10.1007/s11251-025-09741-8
- Gómez, S. M., et al. (2024). The role of social networks in communication and collaboration in research teams. Journal of Technology and Science Education, 14(2). https://doi.org/10.3926/jotse.2361
- IEEE Globecom. (2023). Four-Minute Thesis (4MT) Competition—benefits and format. Retrieved from https://globecom2023.ieee.org
- Jackson, D. (2024). Student employability-building activities: participation and perspectives. Studies in Higher Education. https://doi.org/10.1080/07294360.2024.2325154
- Ma, C., et al. (2024). Influence of competitive attitude and self-efficacy on task motivation: The moderating role of competitive atmosphere. Frontiers in Psychology. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1427041
- Meléndez-Rodríguez, S., et al. (2025). How loud does the Lion roar? Awards as signals of quality for advertising creatives. International Journal of Cultural Policy. https://doi.org/10.1080/13527266.2023.2238276
- PCMA. (2025). Global Student Competition—case study & pitching to industry leaders. Retrieved from https://www.pcma.org
- Purwati, P., et al. (2025). How critical thinking, self-efficacy, and social comparison shape students’ competitive behavior. The Open Psychology Journal, 18. https://doi.org/10.2174/18743501-v18-2025-1383616
- Szántó, P., Papp-Váry, Á., & Radácsi, L. (2025). Research gap in personal branding: Developing a standardized framework for Personal Brand Equity measurement. Administrative Sciences, 15(4), 148. https://doi.org/10.3390/admsci15040148
- To, C. W., & Tam, G. S. (2025). Planning design competitions to cultivate innovative design. Education Sciences, 15(6), 722. https://doi.org/10.3390/educsci15060722
- Wu, Y., et al. (2022). Competition, contracts, and creativity: Evidence from novel-writing contests. Management Science, 68(12). https://doi.org/10.1287/mnsc.2022.4329
Penulis:
Tim Website Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual



