Kuliah di DKV, Apakah Harus Bisa Menggambar?
Anda berminat masuk jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) atau anda sekarang sedang menempuh studi di jurusan tersebut, tapi hati was-was karena kemampuan menggambar Anda belum sempurna? Pertanyaan "apakah harus bisa menggambar?" mungkin menjadi salah satu hal yang paling sering ditanyakan calon mahasiswa hingga mahasiswa yang sedang menempuh studi DKV.
Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tapi untuk memahami jawaban yang tepat, kita perlu melampaui pemahaman menggambar sekadar sebagai kemampuan melukis realistik. Mari kita lihat persoalan ini melalui lensa pemikiran desain, sebagaimana diurai dalam buku klasik Bryan Lawson, "How Designers Think: The Design Process Demystified."
Menggambar Bukan Tujuan, Melainkan Alat Berpikir
Banyak yang beranggapan bahwa menggambar di dunia DKV adalah tentang menghasilkan karya seni yang indah dan sempurna. Lawson dalam bukunya menegaskan bahwa bagi seorang desainer, menggambar terutama sketsa adalah primarily alat untuk berpikir, bukan alat untuk presentasi.
Bayangkan seorang arsitek. Mereka tidak langsung menggambar gedung pencakar langit yang detail. Mereka mulai dengan coretan-coretan kasar, diagram, dan bentuk-bentuk sederhana untuk mengeksplorasi ide. Coretan itu adalah percakapan antara mata, tangan, dan pikiran mereka. Proses inilah yang disebut "Design Thinking."
Di sini, "bisa menggambar" berarti mampu menuangkan ide abstrak di kepala menjadi bentuk visual secara cepat, sekalipun itu hanya berupa stick figure atau bentuk geometris sederhana. Kemampuan ini jauh lebih bernilai daripada kemampuan menggambar photorealistic.
DKV Lebih dari Sekadar Menggambar Manual
Program studi DKV modern adalah ekosistem kreatif yang luas. Fokusnya adalah pada pemecahan masalah komunikasi melalui media visual. Masalah ini bisa diselesaikan dengan berbagai alat, dan tidak semua alat itu adalah pensil dan kertas.
Fotografi dan Image Sourcing: Banyak desain hebat dibangun dari elemen fotografi yang disusun dan dimanipulasi dengan cerdas. Kemampuan memotret atau memilih gambar yang tepat adalah skill yang setara pentingnya.
Tipografi: Menguasai seni merangkai huruf (tipografi) adalah tulang punggung DKV. Anda bisa membuat desain yang powerful hanya dengan permainan huruf, tanpa menggambar satu garis pun.
Software Desain: Tools seperti Adobe Illustrator, Photoshop, dan Figma adalah "pensil" era digital. Banyak proses menggambar dan eksplorasi visual yang kini dilakukan langsung di atas layar.
- Pemikiran Konseptual: Ini adalah intinya Lawson. Kemampuan terpenting seorang desainer adalah "problem framing" kemampuan untuk mendefinisikan inti masalah komunikasi, sebelum terjun ke solusi visual. Tanpa konsep yang kuat, gambar secantik apapun akan kosong makna.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Diperlukan?
Kesimpulan: Kemampuan Menggambar sebagai Alat Berfikir Desain
Kuliah di DKV justru adalah tempat untuk belajar "cara menggambar" yang sesungguhnya bagi seorang desainer. Anda akan diajari dasar-dasar menggambar sebagai fondasi (seperti anatomi, perspektif, dan komposisi), tetapi yang lebih penting, Anda akan dilatih untuk menggunakan gambar sebagai bagian dari proses berpikir kreatif. Seperti kata Bryan Lawson, desain adalah proses yang bisa dipelajari dan dimistifikasi. Kemampuan teknis menggambar adalah salah satu bagian dari proses itu, dan itu bisa diasah seiring waktu. Yang tidak bisa digantikan adalah rasa ingin tahu, pola pikir kritis, dan hasrat untuk berkomunikasi secara visual. Jadi, jangan biarkan ketakutan karena "tidak jago gambar" mengubur mimpi Anda untuk berkuliah di DKV. Fokuslah pada mengasah cara pandang dan cara pikir Anda sebagai seorang calon komunikator visual. Itulah kunci sesungguhnya.



