Isi Tas Anak DKV: Studio Mini yang Berjalan
Kalau kamu sering lewat selasar kampus di awal semester, coba perhatikan punggung mahasiswa DKV. Mereka menggendong Ransel besar dan padat. Beda dari mahasiswa jurusan lain yang bisa jalan enteng dengan satu laptop atau tas selempang tipis, anak DKV tampil beda sejak hari pertama. Tidak bermaksud gaya, tapi itu memang kebutuhan.
Isi tas mereka di awal semester berisi beraneka campuran barang yang susah dijelaskan: ada alat gambar yang harganya bikin dahi berkerut, ada laptop buat rendering, dan ada juga, obat masuk angin adndalan di sudut tas paling dalam.
Musuh pertama: Gambar Manual Kertas
Di semester awal, kelas studio manual masih menjadi menu wajib. Artinya, laptop tidak cukup. Butuh kertas, tapi bukan sembarang kertas. Gramasi minimal 210 sampai 300 gsm menjadi standar yang tidak bisa ditawar. Kalau lebih tipis, cat air atau cat psoter akan membuat permukaannya menggelembung dan tembus ke halaman belakang. Masalahnya, satu buku kertas seperti ini harganya bisa setara dengan jatah makan beberapa hari. :(
"Awal semester adalah momen paling horor buat isi dompet," kata salah satu mahasiswa DKV angkatan 2025 yang kami temui di koridor kampus.
Isi kotak pensil yang tidak biasa
Kalau kamu punya kesempatan mengintip kotak pensil anak DKV, isinya jauh dari kata biasa:
- Drawing pen berbagai ukuran tip dari 0.05 untuk detail sekecil mungkin, sampai yang tebal untuk blocking
- Satu keluarga pensil grafit, dari yang keras untuk sketsa tipis sampai 8B yang pekat
- Cutter, penggaris, dan selotip kertas yang selalu ada di kantong depan tas
Masuk semester atas, bebannya bergeser. Laptop spesifikasi tinggi untuk rendering, drawing tablet, dan stylus pen yang kalau ketinggalan pada hari asistensi rasanya bisa membuat hari runtuh seketika.
Ada yang tersembunyi di sudut tas
Tapi kalau mau benar-benar paham kehidupan anak DKV, tidak hanya ke alat gambarnya. Coba intip kantong dalam tasnya. Hampir pasti ada obat-obat andalan ketika imun mulai goyah. Tugas Nirmana yang butuh presisi tinggi, revisi konsep yang tidak ada habisnya, semua itu pelan-pelan menggerus waktu tidur. Imun turun, badan gampang rewel. Obat-Obatan ini menjadi penyelamat sebelum benar-benar roboh di tengah gempuran tugas.
Pada akhirnya, ransel atau tas mahasiswa DKV tidak hanya menjadi tempat menaruh barang. Bagi anak DKV, itu semacam studio yang ikut ke mana saja, lengkap dengan alat kerja, bekal bertahan hidup, dan segala konsekuensi dari jurusan yang telah dipilih.
Kalau isi tas kamu sendiri, ada barang wajib apa yang selalu masuk tiap berangkat kuliah?



