Posisi Desain Komunikasi Visual di Era "Generating Image" AI
Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) yang dapat menghasilkan gambar seperti Midjourney, DALL-E, Nano Banana dsb, telah menciptakan gelombang disrupsi dalam dunia Desain Komunikasi Visual (DKV). Banyak yang mempertanyakan relevansi peran manusia sebagai desainer saat mesin mampu menghasilkan ilustrasi, layout, dan konsep visual hanya dengan perintah teks sederhana. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh penelitian Brennan & Johnson (2023), "AI tidak menggantikan kreativitas manusia, tetapi mengubah medan tempat kreativitas itu diekspresikan." Fenomena ini lebih tepat dipandang sebagai transformasi profesi, di mana desainer ditantang untuk menyesuaikan diri dan menemukan posisi baru dalam ekosistem kreatif yang hybrid.
Di satu sisi, AI memang unggul dalam kecepatan produksi gambar, eksplorasi gaya, dan efisiensi untuk tugas-tugas visual berulang. Hal ini mengancam peran desainer di area produksi rutin seperti pembuatan banner template atau ilustrasi stok dasar. Namun, keunggulan peran manusia tetap tak tergantikan dalam memahami konteks budaya, nuansa emosional, dan strategi komunikasi yang kompleks. Davis (2024) berargumen bahwa "nilai desainer masa depan terletak pada kemampuan mereka untuk memberikan konteks, makna, dan tujuan strategis di balik gambar yang dibuat AI." Kolaborasi manusia-AI justru membuka peluang untuk mengangkat kualitas ide dan eksplorasi konsep yang lebih kaya.
Perubahan ini melahirkan permintaan akan keterampilan baru. Desainer kini perlu menguasai AI literacy dan prompt crafting (seni merumuskan instruksi tekstual yang presis) untuk mengarahkan output AI secara efektif. Peran seperti AI Art Director atau Prompt Engineer Kreatif mulai muncul. Menurut Laporan Adobe Creative Frontiers 2023, "70% desainer profesional percaya bahwa kemahiran dalam mengkurasi dan menyempurnakan hasil AI akan menjadi kompetensi inti dalam 5 tahun ke depan." Adaptasi terhadap alat baru ini menjadi kunci untuk tetap kompetitif.
Secara etis, kehadiran AI juga menempatkan desainer sebagai garda terdepan dalam memastikan praktik yang bertanggung jawab. Isu bias algoritma, hak cipta, dan orisinalitas menjadi bagian dari tanggung jawab profesi desainer. Müller (2023) menekankan bahwa "desainer memiliki peran krusial dalam mengarahkan teknologi AI agar berjalan selaras dengan nilai-nilai humanis dan inklusivitas." Ini menambah dimensi baru pada profesi DKV, dari sekadar pencipta visual menjadi pengawas dan pelaku etis ekosistem kreatif digital.
Melihat ke depan, hubungan antara desainer dan AI akan memasuki fase simbiosis yang lebih dalam. Desainer akan bergeser dari peran maker menjadi strategist, curator, dan director yang menjadi konduktor dari orkestra kecerdasan buatan untuk menghasilkan karya yang bermakna. Zhou & Lee (2024) memprediksi bahwa "profesi desain akan terpolarisasi: sebagian akan menjadi spesialis AI yang sangat teknis, sementara sebagian lain akan menjadi generalis yang fokus pada narasi, strategi, dan pengalaman manusia." Masa depan DKV tidak lagi tentang persaingan, namun berubah menjadi kolaborasi yang saling memperkuat.



