Menjahit Luka Lama: Analisis Makna Cover Buku "Broken Strings" dari Perspektif Grooming dan Semiotika Visual
Kisah hidup aktris Aurelie Moeremans baru-baru ini kembali menjadi sorotan setelah ia merilis karya tulisnya yang bertajuk "Broken Strings". Buku ini menjadi sebuah pernyataan keberanian atas trauma masa lalu. Melalui buku ini, kita diajak memahami betapa gelapnya perjalanan emosionalnya dalam menghadapi trauma masa remaja yang terpendam selama belasan tahun. Fokus utama narasi ini tertuju pada pengalaman nyata Aurelie ketika ia terjebak dalam hubungan yang dipenuhi manipulasi oleh seorang pria yang berusia jauh lebih dewasa. Melalui tulisan pada buku ini, ia memproses luka batin akibat tekanan psikologis yang sangat berat, termasuk ancaman dan isolasi yang pernah dialaminya. Keberanian untuk merilis kisah ini didorong oleh saran dari terapis serta dukungan suaminya guna memberikan edukasi bagi perempuan lain agar lebih waspada terhadap tanda-tanda hubungan yang membahayakan.
Fenomena yang dialami Aurelie saat berusia enam belas tahun tersebut secara teknis dikenal dengan istilah child grooming. Tindakan ini merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan emosional yang mendalam dengan anak di bawah umur agar mereka bisa dikendalikan sepenuhnya. Pelaku biasanya menunjukkan perhatian yang sangat intens pada tahap awal guna memenangkan kepercayaan korban serta lingkungannya. Setelah kepercayaan tersebut terbentuk, pelaku mulai melakukan eksploitasi secara perlahan dan mengikis batas-batas pribadi korbannya melalui ketergantungan emosional yang diciptakan secara sengaja.
Proses grooming ini bekerja melalui siklus yang sangat sistematis, dimulai dari pemberian kasih sayang yang berlebihan hingga berlanjut pada tahap isolasi sosial. Pada tahap isolasi, pelaku berusaha memisahkan korban dari pengaruh teman serta anggota keluarga agar kontrol yang dimiliki menjadi mutlak dan tidak terganggu. Manipulasi emosional digunakan untuk membuat korban merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan atau bahkan nyawa pelaku. Kondisi inilah yang menyebabkan korban merasa sangat sulit untuk melarikan diri dari jeratan hubungan tersebut meskipun situasinya sudah sangat mengancam kesehatan mental mereka.
Dalam penyampaian kisahnya melalui buku, aspek visual pada sampul memegang peranan krusial sebagai alat komunikasi yang efektif sebagai penyampai pesan sebelum pembaca membaca isi buku ini. Penggunaan teori semiotika sangat menonjol pada desain sampul, di mana setiap elemen visual berfungsi sebagai tanda yang mewakili pesan tertentu yang sangat spesifik. Semiotika membantu pembaca memahami makna di balik lambang yang digunakan melalui hubungan antara penanda (signifier) berupa gambar fisik dan petanda (signified) yang berupa konsep emosional di baliknya. Desain ini dirancang untuk memberikan dampak visual yang langsung memberikan gambaran mengenai kengerian manipulasi psikologis tanpa memerlukan banyak penjelasan tekstual.
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/01/14/70b6284d2b91950d2e6343b591d8230f-cropped_image.jpg)
Salah satu elemen visual yang sangat kuat adalah gambar tangan dengan tato nama Aurelie pada pergelangan tangan yang menggambarkan konsep kepemilikan oleh pelaku. Secara teori semiotika, tato tersebut berfungsi sebagai tanda indeksikal yang menunjukkan adanya hubungan kekuasaan yang sangat timpang antara pelaku dan korban. Dalam sejarah nyatanya, tato tersebut digunakan sebagai alat intimidasi di mana pelaku mengancam akan menyakiti diri sendiri tepat di atas nama tersebut jika keinginannya tidak dipenuhi oleh Aurelie. Penggambaran ini secara efektif menyampaikan pesan tentang bagaimana identitas dan raga seseorang bisa disandera dalam sebuah hubungan yang toksik.
Simbol lain yang memiliki makna mendalam adalah alat pengendali boneka (puppet controller) yang bentuknya menyerupai salib, mencerminkan taktik manipulasi spiritual yang dialami penulis. Penggunaan bentuk yang menyerupai simbol agama ini merepresentasikan cara pelaku memanfaatkan keyakinan religius korban untuk membenarkan tindakan kontrol dan dominasinya. Dalam perspektif komunikasi visual, penggabungan dua elemen yang kontras ini menciptakan metafora tentang penjara emosional yang dibalut dengan narasi ketuhanan. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku sengaja menargetkan sisi paling pribadi dan spiritual dari korban untuk memperkuat kepatuhan serta rasa takut yang mendalam.
Kehadiran buku "Broken Strings" dengan desain sampul yang penuh makna tersebut menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal hubungan yang tidak sehat. Kolaborasi antara narasi pribadi yang jujur dan penerapan teori visual yang tepat berhasil menciptakan sebuah karya yang memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak jangka panjang dari child grooming. Melalui karya ini, pembaca diharapkan dapat lebih waspada terhadap pola-pola manipulasi yang sering kali tersembunyi di balik kedok perhatian orang dewasa. Keseluruhan elemen dalam buku ini berfungsi sebagai alat pembelajaran sosial yang bertujuan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa pada generasi mendatang.
Referensi:
NSPCC. (n.d.). Grooming: What it is and how to spot the signs. National Society for the Prevention of Cruelty to Children.
Peirce, C. S. (1991). Peirce on Signs: Writings on Semiotic by Charles Sanders Peirce (J. Hoopes, Ed.). University of North Carolina Press.
Tinarbuko, S. (2008). Semiotika Komunikasi Visual. Kanisius.
Asri Kirana, D. A. S. (2026, 15 Januari). Makna Dibalik Cover Buku “Broken Strings” Karya Aurelie. RRI.co.id.
Penulis : Tim Website DKV UNESA
Sebagian dari draft awal artikel ini ditulis menggunakan Gemini kemudian disunting serta dikembangkan lebih lanjut oleh penulis



