Cuaca Panas? Lawan dengan Desain yang Dingin: Tips Membuat Desain Komunikasi Visual Tampak Lebih Segar
Saat cuaca panas dan matahari terik menyengat, desain Anda bisa menjadi "penyejuk" visual yang menyegarkan mata dan pikiran audiens. Bagaimana caranya?
Warna adalah elemen paling powerful untuk menciptakan suasana dalam sebuah desain. Tinggalkan warna-warna "panas" (merah, kuning, orange dll) untuk sementara dan beralihlah ke palet warna dingin melalui dominasi warna Biru dan Hijau. Biru adalah warna yang paling diasosiasikan dengan kesejukan, ketenangan, dan air. Hijau mengingatkan pada dedaunan yang rindang dan alam. Kombinasikan berbagai nuansa dari kedua warna ini. Contoh Palet: Biru laut (navy), Biru langit (sky blue), Hijau mint, Hijau sage, dan Putih. Johannes Itten dalam bukunya "The Art of Color" menjelaskan bagaimana warna dingin (seperti biru dan hijau) secara psikologis menciptakan kesan jarak, ketenangan, dan memiliki efek menyejukkan.

(sumber: pacificpaint.com)
Selain itu perkuat dengan Warna Netral yang Cerah: Gunakan putih, abu-abu sangat terang, atau krem sebagai warna dasar. Warna-warna ini memantulkan cahaya secara visual, menciptakan kesan lapang dan bersih. Aksen Pastel dapat ditambahkan untuk memberikan sentuhan lembut. penggunaan warna pastel seperti lavender, baby pink, atau pirus muda (turquoise) untuk menambah kesan segar tanpa membuat desain terlihat "kekanakan".
Pilihlah Tipografi yang "Ringan dan Lapang"
Tipografi yang padat dan tebal dapat terasa "gerah" dan menyesakkan. Pilihlah font yang memberi ruang bernapas. Font Sans-Serif dapat dipilih agar desain terlihat lebih modern, bersih, dan ringan. Lalu jangan lupa utamakan keterbacaan. Pilih font dengan ketinggian huruf (x-height) yang baik. Tracking (jarak antar huruf) dan leading (jarak antar baris) juga dapat disesuaikan untuk menambah kesan lapang dan ringan. Ellen Lupton dalam "Thinking with Type" menekankan bahwa leading dan tracking yang longgar adalah kunci untuk meningkatkan keterbacaan dan menciptakan kesan elegan serta lapang, yang tentunya kontras dengan kesan "sempit" dan "pengap".
Manfaatkan Asosiasi Visual yang Menyejukkan
Gunakan elemen grafis yang langsung mengingatkan audiens pada kesejukan. Pilihlah objek Fotografi yang tepat, pilih gambar dengan subjek Air, Ombak laut, percikan air, gelas minuman berembun, danau atau genangan air yang tenang. Untuk subjek alam lainnya dapat berupa daun yang basah, hutan, langit biru dengan awan putih. tekstur es batu, dan kaca. Konsep Semiotika dalam desain, sebagaimana dijelaskan oleh teorisi seperti Roland Barthes, menyatakan bahwa sebuah gambar (signifier) dapat membangkitkan makna dan perasaan tertentu (signified) di benak penonton. Gambar es yang mencair, misalnya, langsung ditafsirkan sebagai "kesejukan".

(sumber: foodsafetyblog)
Sentuhan Akhir: Efek Transparansi dan Kilau
Tambahkan sedikit "es batu" pada desain Anda. Anda dapat mempertimbangakan gaya Efek Glassmorphism. Tren desain dengan ciri khas latar belakang blur dan transparansi ini dapat menciptakan kesan kedalaman dan kesejukan. Gaya Glassmorphism yang populer dalam desain UI/UX modern mengambil inspirasi dari sifat kaca dan es, yang secara fisik tembus pandang dan dingin. Efek ini memanfaatkan blur dan transparansi untuk meniru tekstur material yang sejuk. Anda juga dapat menambahkan highlight yang berkilau seperti semburat warna terang atau cahaya tipis yang sangat halus.
Mendesain untuk melawan cuaca panas adalah tentang empati visual. Dengan memilih warna yang sejuk, tipografi yang lapang, imagery yang menyegarkan, Anda tidak hanya menciptakan desain yang indah, tetapi juga pengalaman visual yang nyaman dan menggairahkan bagi audiens di tengah teriknya hari. Jadi, saat thermometer meroket, biarkan karya desain Anda menjadi oasis yang menyejukkan.
Itten, J. (1970). The Art of Color: The Subjective Experience and Objective Rationale of Color. Van Nostrand Reinhold.
Lupton, E. (2010). Thinking with Type (2nd ed.): A Critical Guide for Designers, Writers, Editors, & Students. Princeton Architectural Press.
Tinarbuko, S. (2012). Semiotika Komunikasi visual. Jalasutra. Yogyakarta
Penulis:
Tim Website Prodi DKV Unesa



